Mengenal Program Kartu Prakerja: Solusi Peningkatan Keterampilan di Era Digital

Program Kartu Prakerja merupakan salah satu inovasi strategis dari Pemerintah Indonesia untuk menjawab tantangan pengangguran dan rendahnya produktivitas tenaga kerja. Diluncurkan pertama kali pada tahun 2020, program ini awalnya dimaksudkan untuk membekali pencari kerja dengan keterampilan baru melalui pelatihan berbasis digital.

Berbeda dari pelatihan konvensional, program ini dirancang fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan zaman. Peserta dapat memilih pelatihan sesuai minat dan potensi melalui berbagai platform digital seperti Skill Academy, Pintaria, hingga Pijar Mahir. Materi pelatihan mencakup berbagai sektor, mulai dari digital marketing, desain grafis, kuliner, hingga keuangan.

Setiap peserta yang lolos seleksi mendapatkan insentif dalam dua bentuk: pertama, saldo pelatihan senilai Rp1.000.000 yang digunakan untuk membeli kursus; kedua, insentif tunai pasca pelatihan sebesar Rp600.000 per bulan selama empat bulan. Terdapat juga insentif survei untuk memberikan umpan balik.

Salah satu kelebihan dari program ini adalah pendekatannya yang berbasis teknologi. Proses pendaftaran dilakukan secara online, memudahkan masyarakat dari berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil, untuk ikut serta. Hal ini sekaligus mendukung inklusi digital dan pendidikan keterampilan yang lebih merata.

Program Kartu Prakerja juga membantu pelaku usaha mikro dan pekerja informal untuk meningkatkan kompetensi mereka. Banyak peserta berasal dari kalangan yang terdampak langsung pandemi, seperti ojek online, pekerja lepas, hingga ibu rumah tangga yang ingin membuka usaha mandiri.

Evaluasi terhadap program ini menunjukkan hasil yang cukup positif. Studi yang dilakukan berbagai lembaga independen, termasuk Bappenas dan World Bank, menyatakan bahwa mayoritas peserta merasa pelatihan yang mereka ikuti bermanfaat secara langsung dalam pekerjaan maupun usaha mereka.

Namun demikian, program ini bukan tanpa tantangan. Beberapa kritik muncul terkait kualitas pelatihan, kurangnya interaksi dua arah, dan sertifikasi yang belum sepenuhnya diakui oleh dunia industri. Pemerintah pun terus melakukan evaluasi dan penyesuaian, seperti meningkatkan kurasi pelatihan dan mendorong keterlibatan industri.

Kartu Prakerja kini juga diarahkan sebagai jembatan menuju pelatihan kerja formal atau kerja langsung di perusahaan. Pemerintah mendorong kolaborasi antara platform pelatihan dengan industri agar terjadi proses link and match antara kompetensi dan kebutuhan pasar kerja.

Dengan populasi usia produktif yang sangat besar, program ini memiliki potensi untuk menjadi bagian dari strategi besar Indonesia dalam menyongsong bonus demografi. Melalui Prakerja, diharapkan generasi muda Indonesia tidak hanya menjadi pencari kerja, tapi juga pencipta lapangan kerja.

Ke depan, Kartu Prakerja dapat berkembang menjadi ekosistem pelatihan nasional yang terintegrasi. Sinergi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga pelatihan, dan masyarakat adalah kunci keberlanjutan program ini. Jika dikelola dengan baik, Prakerja bukan sekadar solusi darurat, tapi fondasi pembangunan SDM Indonesia di era digital.

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *